Leo’s Thoughts


Pahlawan Dalam Diri
July 9, 2008, 4:39 pm
Filed under: Uncategorized | Tags: ,

There’s a hero

If you look inside your heart

You don’t have to be afraid

Of what you are

There’s an answer

If you reach into your soul

And the sorrow that you know

Will melt away…

Hero, Mariah Carey

Pernah ngga sih kita bertanya,, sebenarnya apa impian kita saat kita kecil. Pasti beragam jawabannya, ada yang ingin menjadi pilot, ada yang astronot, ada yg mau jadi dokter,ato jadi ilmuwan, jadi tentara, jadi polisi, atau bahkan senaif menjadi direktur, haha2, saya sering tertawa jika mengingat sebagian saat-saat saya masih kecil. Tetapi ada satu hal yang pasti,, tiap-tiap kita pasti punya seorang superhero andalannya, ada yang ksatria baja hitam, power rangers, batman, robin, spidey, the flash, superman, ato yang lainnya. Saya sendiri memilih menjadi ksatria baja hitam. Dulu dimanapun saya berada,, entah sedang di rumah saudara, atau sedang berjalan-jalan di mall,, pasti saya akan merengek untuk mencari televisi saat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore di hari selasa kalau tidak salah. Kalau sedang di rumah, di hari itulah saya akan mandi terlebih dahulu sebelum disuruh oleh orang tua saya (walaupun di hari lain biasanya saya selalu dikejar-kejar untuk segera mandi, maklum anak kecil,, haha2..). jadi nostalgia masa kecil gini. Intinya saya suka sekali ketika dia selalu berusaha menyelamatkan dunia saat itu, walaupun dengan berbagai perubahan-perubahannya seperti Ksatria Baja Hitam Rx, Rx Bio, dan Rx Robo. Lagi-lagi saya ngelantur kemana-mana,, ; p.

Saya yakin sekali,, tiap-tiap kita, sadar atau tidak sadar di hati kecilnya pasti ingin menjadi pahlawan. Menurut saya itu panggilan jiwa sebenar-benarnya. Menyelamatkan dunia,, walaupun bisa ditafsirkan berbeda-beda oleh setiap orangnya, merupakan cita-cita terbesar setiap orang walaupun kadang kita tidak sadar. Yang pasti kita pasti,, dahulu saya sangat menyukai akhir cerita film dimana sang pahlawan menyelamatkan banyak orang di episode itu lalu si penjahat lagi-lagi terkalahkan. Kenikmatan terbesar dari menonton keseluruhan film menurut saya, saat melihat si pahlawan dan si penjahat dua-duanya mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan.

Ato kejadian simpel,, pernah ngga ngelihat ibu-ibu mau nyeberang dan kemudian kita pengen banget bantuin, dan setelah nyeberangin si ibu rasanya seneng banget kaya habis nyelametin dunia,, haha2.. Ato di jalan ngelihat bapak-bapak pusing karna mobilnya mogok,, pasti timbul keinginan walaupun terkadang keinginan itu suka kita acuhkan dengan alasan lagi buru-buru (yang biasanya kalo sering diacuhkan keinginan-keinginan ini jadi jarang muncul),, dan lagi-lagi setelah ngebantu ngedorongin pasti rasanya puas banget.. Saya yakin banget there’s a hero inside us. Yang selalu meminta diri untuk menjadi berguna bagi orang lain, yang selalu mendesak diri untuk membantu siapapun yang kita lihat butuh bantuan,, namun terkadang perasaan-perasaan itu sering kita kubur dengan alasan,, malas,, cape,, ato bahkan sibuk dan tidak ada waktu. Padahal sebenarnya setiap orang-orang yang terlihat butuh bantuan kita dan kita memiliki kemampuan untuk membantunya,, menurut saya adalah kesempatan dan kemurahan hati yang diberikan Allah untuk dapat membuat batin kita menjadi lebih tenang dan nyaman. Ada satu tulisan yang saya suka, saya pernah meminta izin kepada si penulis untuk mencantumkan tulisannya ke dalam salah satu kampanye saya saat di MTI,

kekayaan hidup adalah pada memberi dengan sepenuh tulus, pada melayani dengan sepenuh cinta. Tiap sesuatu yang kita bagi dengan orang lain, waktu; tenaga; harta; perhatian; akan menjejakkan bekas pada batin yang meyakinkan diri ini bahwa : semua yang telah kita berikan itulah yang sesungguhnya kita miliki. Karena padanya kita memiliki kendali untuk menyerahkannya pada orang lain, Bukankah kita tidak berhak memberikan kepada orang lain sesuatu yang bukan milik kita..?” M.Firman Biologi ITB’96

Lalu kita melihat lagi kehidupan kita sekarang. Apa yang sebenarnya sedang kita kejar? apa yang sebenarnya ingin kita wujudkan dalam hidup..? Bagaimana perasaan kita jika tiba-tiba kita dihadapkan pada diri kita yang masih anak-anak,, apakah diri kita itu akan bangga melihat apa yang kita lakukan sekarang? apakah kita telah memenuhi panggilan hati kita untuk menjadi seorang pahlawan? Dosen yang saya sukai yaitu Pak Gede Raka pernah berkata,, jika kamu ingin mengetes seberapa bangga kamu akan diri kamu, dan apakah jalan yang kamu jalani ini adalah jalan yang baik,, ada dua hal yang harus kamu tanyakan,, “Does it balance or fair..?” dan yang kedua “Is it make you proud..?”. Apakah yang kamu lakukan layak untuk dilakukan? Apakah apa yang kamu lakukan dapat membuatmu bangga..?

Jika kamu belum cukup yakin dengan jawabannya,, coba tanyakan lagi,, “Bila semua perbuatanmu saat ini dimasukkan di koran,, dan disana ditulis bahwa kau adalah anak dari ibu dan bapakmu,, apakah kau akan senang saat orang lain tahu apa yang sedang kau lakukan? Dan apakah kedua orang tuamu akan meneteskan air mata bangga karena telah membuat jerih payah mereka berdua berarti..?”

Jika jawaban dari beberapa pertanyaan tadi kurang memuaskan dirimu,, bersiaplah untuk malu dengan dirimu yang masih berumur 7 tahun. Karena walaupun dia belum mampu berbuat banyak, tapi dia masih ingin menjadi pahlawan, untuk bekerja keras demi kebaikan orang lain.

Saya pun akan malu jika bertemu dengan saya yang masih berumur 7 tahun,, dan mungkin akan menangis dan meminta maaf,, karna saya mungkin masih jauh dari berguna bagi orang banyak..

Tulisan ini mengingatkan saya akan pengalaman yang paling berkesan selama saya menjabat di MTI. Saat itu menjelang liburan kuliah,, bersama beberapa orang teman,, kami berjuang kesana-kemari untuk menyelamatkan status mahasiswa beberapa sahabat kami di TI,, yang mungkin efeknya buat mahasiswa-mahasiswa lain juga di ITB. Saya cuma ingin berterimakasih kepada mereka semua,, baik yang bekerja sama dengan saya, maupun yang kami coba perjuangkan waktu itu. Karena mereka membuat diri saya merasa sedikit berharga dan berguna bagi orang lain saat itu, yang perasaan itu mungkin saat ini sangat saya rindukan. Rindu sekali.

Untuk semua mimpi yang pernah tertanam

Untuk semua pribadi yang sedang mencari jalan mewujudkan kepahlawanannya

Semoga behasil menjalankan panggilan dan amanah jiwa kita masing-masing

Jumat, 4 Juli 2008

Sumber Inspirasi:

Pak Prof. Dr. Ir. Ida I Dewa Gede Raka, MEIE

Bang Firman Biologi’96

Lagu Heronya Mariah Carey

Film Hancock



I CRIED FOR MY BROTHER SIX TIMES
June 24, 2008, 10:32 am
Filed under: Uncategorized | Tags:

Saya membaca sebuah tulisan yang sangat bagus sekali untuk saya bagi di blog saya, saya mendapatkannya dari salah satu milis, tetapi saya lupa milis yg mana,, karena saya terbiasa untuk selalu mensave tulisan-tulisan yang saya sukai dari internet, tetapi baru dibaca lama setelah itu. Kurang lebih saya juga 6 kali menangis saat membaca tulisan ini,, baiklah selamat membaca…

I CRIED FOR MY BROTHER SIX TIMES

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggungmereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! ” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga(di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, ” Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? ” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ..” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..” Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota . Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?” Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.” Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.” Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Sumber: Diterjemahkan dari “I cried for my brother six times”

Based On True Story

[Non-text portions of this message have been removed]

Membaca tulisan ini jadi teringat akan saudara-saudara saya di jakarta, karena seingat saya belum banyak hal besar yang rela saya korbankan untuk kebahagiaan mereka. Hari ini saya akan berkata, wahai saudaraku, if there’s any favor that I can do, please let me know. Cause I’ll give all my best to be helpful.



Nasehat Elang Pada Anaknya (Muhammad Iqbal)
June 24, 2008, 9:57 am
Filed under: Uncategorized | Tags:

Saya membaca kembali kumpulan arsip lama,, dan terbukalah tulisan Muhammad Iqbal di bawah ini,, saya jadi tertarik untuk membaginya kepada teman-teman semua,, semoga bermanfaat,, selamat membaca..

Nasehat Elang Pada Anaknya

Kautahu bahwa semua elang hanya pantas bagi sesama elang:
Dengan segenggam sayap, masing-masing memiliki hati singa.
Harus berani dan hormat diri, sergaplah mangsa yang besar saja.
Jangan bersibuk dengan ayam hutan, burung meliwis dan pipit
Kecuali jika kauingin melatih kepandaianmu memburu.
Adalah hina, pengecut, tanpa berusaha mengeram
Membersihkan paruh kotor dengan mengambil makanan dari tanah.
Elang tolol yang meniru cara hidup burung pipit yang pemalu
Akan menjumpai nasib malang sebab ialah yang menjadi mangsa buruannya
Kutahu banyak elang yang jatuh dalam debu di mata mangsanya
Oleh karena mereka memilih jalan hidup burung pemakan gandum.
Peliharalah martabatmu hingga hidupmu bahagia
Selalulah geram, keras, berani dan kuat dalam perjuangan hidup.
Biarlah ayam hutan yang malang punya tubuh indah dan langsing
Bangunlah dirimu kokoh seteguh tanduk rusa jantan.
Apa pun kesenangan yang berasal dari kehidupan fana di sini
Datang dari hidup yang penuh keberanian, kegiatan dan kecermatan.
Nasehat berharga yang telah diberikan elang pada anaknya:
Jadikan tetesan darah kemilaumu berkilat-kilat bagaikan manikam.
Jangan kehilangan diri dalam penggembalaan seperti domba dan kerbau
Jadilah dirimu seperti nenek-moyangmu semenjak dulu.
Kuingat dengan baik betapa orangtuaku senantiasa menasehatiku begitu.
“Jangan bangun sarangmu di dahan pohon, “ ujar mereka.
“Kita para elang tak mencari perlindungan di taman dan ladang manusia.
Surga kita di puncak-puncak gunung, gurun luas dan tebing jurang.
Bagi kita haram menjemput bulir-bulir jelai dari tanah
Sebab Tuhan telah memberi kita ruang lebih tinggi yang tak terbatas.
Penduduk kelahiran angkasa yang berdiam di bumi
Di mataku lebih buruk dari burung kelahiran bumi.
Bagi elang ladang buruannya adalah karang dan batu jurang
Karang baginya adalah batu gosok untuk mempertajam cakar-cakarnya.
Kau adalah salah seorang anak kebuasan yang bermata dingin
Keturunan paling murni dari burung garuda.
Jika seekor elang muda ditantang oleh seekor harimau
Tanpa mengenal takut ia akan membelalakkan matanya.
Terbangmu pasti dan megah seperti terbang malaikat
Dalam nadimu mengalir darah raja purba puncak-puncak gunung
Di bawah kolong langit yang luas ini, kau tinggal
Martabatmu terangkat oleh kekuatan, sasaran apa pun tak ditampik oleh matamu
Kau tak boleh meminta makanan dari tangan orang lain kapan pun saja.
Baik-baiklah kau membawa diri dan dengarkan selalu nasehat yang baik dan luhur

Muhammad Iqbal
Dari payam-i-mashriq (Pesan dari Timur)

23 Juni 2008

Tulisan yang baik untuk saya baca di saat-saat ini,,

Ya Tuhanku,, bukakanlah…



Hari Ayah
May 24, 2008, 6:40 pm
Filed under: Uncategorized | Tags: ,

“It doesn’t matter who my father was,,

It matters who I remembered he was…”

-Anne Sexton-

Tiba-tiba teringat suatu cerita dari salah seorang ustad pada saat saya masih kecil,,

Kepada siapa aku harus berbakti ya rasul..?

Ibumu…

Kepada siapa aku harus berbakti ya rasul..?

Ibumu…

Kepada siapa aku harus berbakti ya rasul..?

Ibumu…

Kepada siapa aku harus berbakti ya rasul..?

Ayahmu…

(ditulis kembali berdasar ingatan seadanya tentang salah satu hadits)

Dari kecil kita pasti seringkali diceritakan percakapan diatas, saya sepakat dengan seberapa besar penghargaan yang kita berikan kepada ibu kita. Saya hanya ingin menceritakan seberapa besar saya ingin menghargai peran seorang ayah, bukan hanya karena saya nantinya akan menjadi seorang ayah, tetapi menurut saya, ayah adalah sosok yang butuh penghargaan juga dari anak2nya.

Saya ingin menceritakan pengalaman saya malam minggu lalu, saat ulang tahun ayah saya. Seperti kebiasaan di keluarga kami, jika salah satu dari kami berulang tahun biasanya anggota keluarga yang lain berkewajiban untuk menyiapkan acara surprise untuknya.

Namun kali ini saya lupa, saya baru ingat saat ditelpon oleh kakak saya, menanyakan sampai di jakarta jam berapa. Sayapun baru dapat travel jam 11.45 dan baru sampai di jakarta sekitar pukul 02.00 dini hari. Jadi akhirnya kami putuskan untuk memberi surprise sekitar pukul 05.00 pagi, saat beliau sedang salat subuh.

Kebetulan saya memang agak jarang pulang ke jakarta, karena satu dan lain alasan, (atau memang hanya alasan yang dibuat2,, hehe2..). Jadi sedikit rindu juga saat bertemu orang-orang rumah. Saya tidak tidur dari datang sampai menjelang surprise, kebetulan kami, saya, kakak dan adik saya menghabiskan waktu untuk mengobrol dan menonton DVD, sunguh menyenangkan buat saya.

Surprise pun akhirnya kami lakukan, dan beliau cukup terkejut melihat kehadiran saya, cukup senang juga nampaknya, hehe2.. Beliau dengan riangnya menyambut kami, memotong kue, kemudian memberikan kami sedikit kuliah subuh (kebetulan beliau memang gemar memberikan kuliah singkat kepada siapa saja kapan saja,, hehe2..).

Satu hal yang saya sadari ternyata dalam surprise ini, ternyata bukan kami yang memberi surprise yang sebenarnya lebih dinanti untuk memberikan kesenangan. Tetapi wajah riang ayah, kehangatannya, kesediaannya memberikan kuliah subuh kepada kami, kesediaannya memotong kue dan bercengkrama kepada kami yang memberikan surprise yang sebenarnya lebih dinanti. Karna kami sadar, mungkin untuk saat ini hanya ini salah satu usaha yang dapat kami berikan untuk membalas kebaikan beliau yang kami terima selama ini.

Di negara kita, dikenal tanggal 21 April sebagai hari kartini dan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Untuk kami, untuk saya khususnya, tanggal 20 April adalah hari ayah.

Rangkuman kata-kata beliau yang paling saya ingat malam itu,,

“Mungkin kita ini terlalu banyak memberikan penghormatan, penghargaan dan pujian kepada orang-orang yang jauh dari kita. Yang mungkin tidak membutuhkan itu untuk membuat mereka lebih baik menjalani hari mereka. Kita terkadang lupa untuk memberikan penghormatan, penghargaan dan pujian kepada orang-orang yang dekat dari kita. Yang mungkin lebih berpengaruh dalam hidup kita, yang mungkin lebih berjasa dalam hidup kita, yang mungkin lebih membutuhkannya untuk membuat mereka lebih bersemangat menjalani hari mereka..”

Hari ini saya ingin sekali berkata kepada ayah saya bahwa,,

It’s an honour for me to be taught by you,,

To see what you see,,

To think how you think,,

To feel what you feel,,

To live how you live,,

To be as wise, as harm, as great as you are,,

And I thank God for sending me the right man to teach…

Semoga membuat saya selalu teringat untuk berdoa dan berbakti

23 April 2008



Film Indonesia Terbaik pilihan saya
May 24, 2008, 6:32 pm
Filed under: Uncategorized | Tags: ,

Baru saja nonton film ayat-ayat cinta di ciwalk XXI,saya langsung kasih 4 jempol untuk film ini. Menurut saya sampai saat ini, film Indonesia terbaik ialah ayat-ayat cinta, dibawahnya baru mengejar matahari serta nagabonar jadi 2, dan tak lupa pula si pembuka gerbang ada apa dengan cinta serta jaelangkung. Saya tidak begitu tertarik dengan segala pemeringkatan yang saya buat tadi, saya lebih ingin membahas lebih dalam tentang film ayat-ayat cinta.

Di sini saya belajar tentang cinta, tentang keinginan memiliki yang ternyata berbeda, (walaupun saya tetap saja memilih keinginan memiliki dibanding cinta, hehe2..). Saya belajar tentang Islam sebagai way of life, bagaimana adab menangani orang asing, bagaimana adab memperlakukan istri, bagaimana adab berlaku dengan lawan jenis, bagaimana konsep islam tentang tatacara mengenal calon istri yaitu taaruf yang berbeda dengan konsep dunia barat yaitu pacaran.

Saya belajar untuk tahu bahwa Tuhan ada bukan hanya untuk orang-orang saleh yang selalu berada di mesjid, tetapi juga umatNya yang mungkin telah salah dalam memilih jalan. Saya belajar untuk sadar bahwa semua yang saya miliki adalah titipan, bahwa setiap saat bisa saja Allah mengambilnya kembali, entah itu harta, milik, ketenaran, prestasi, teman, kepandaian, kemampuan, dan banyak lagi. Dan lebih sadar untuk lebih peka dengan keadaan sekitar untuk segala sesuatu yang telah kita lakukan, karena sekecil apapun itu pasti ada pengaruhnya terhadap orang lain entah baik maupun buruk.

Tetapi yang paling penting saya belajar untuk lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapi segala cobaan hidup. Itu saja kuncinya, karena segala sesuatu apapun yang Allah mau kita jalani, pasti ada hikmah di balik semua itu. Saya jadi berpikir lagi tentang konsep takdir, mungkin benar segala sesuatunya memang sudah digariskan, yang bisa kita lakukan hanyalah menentukan dimana kita berpijak dan apa yang kita yakini saat sang takdir datang menghampiri.

Menurut saya hal ini harusnya membuka mata para pendakwah kita, walaupun sebenarnya keberadaan film ini adalah buah dari MD Entertainment yang jeli melihat peluang bisnis ini. Tetapi paradigma dakwah di Indonesia harus dilengkapi. Karna sebenarnya yang butuh didakwahi bukan hanya orang-orang “suci” yang gemar beribadah serta memiliki inisiatif tinggi untuk menggerakkan badannya untuk selalu ke mesjid atau mengikuti segala kegiatan keislaman. Target pasar utama dakwah seharusnya ialah seluruh kalangan muda di Indonesia, yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa, akan menjadi orang-orang yang menentukan arah gerak bangsa ini.

Karena itu dakwah haruslah dapat menyentuh kebiasaan anak muda zaman sekarang, yang katanya digolongkan sebagai budaya pop. Dan menonton film sudahlah menjadi budaya dan kebiasaan pada diri tiap anak muda sekarang. Sudah saatnya hegemoni eksploitasi seks dan horror dihentikan dengan film-film yang memberikan nilai tambah bagi penontonnya, tata nilai yang ditawarkan. Sudah saatnya para pendakwah memberikan budgetnya untuk masuk berdakwah melalui kebiasaan yang populer di kalangan orang banyak. Bukankah itu yang dilakukan para pendahulu kita, para wali songo yang melakukan berbagai cara untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran pada masyarakat di zamannya masing-masing. Subhanallah.

Sebuah pandangan dari orang yang tahu begitu banyak ketidak sempurnaan dalam diri,tapi tetap yakin itu bukanlah suatu halangan untuk menyampaikan yang dianggapnya benar.

Maha Besar Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tuhan segala makhluk.

11 Maret 2008, 01.13 WIB



Akhirnya Menulis…
May 24, 2008, 6:30 pm
Filed under: Uncategorized | Tags:

Terimakasih buat Arfi Jayanti yang udah membantu (sangat membantu tepatnya,, hehe2..) dalam menyempurnakan blog ini. Agak terlalu sibuk akhir-akhir ini, jadi ngga sempet nge-post di blog lagi. (padahal sibuk sendiri aja ; p) Banyak mikirin diri sendiri sih, banyak yg harus diputusin,, maklum mahasiswa di persimpangan lulus,, banyak maunya,, hehe2.. Jadi ngga sempet mikirin orang lain d,, apalagi bangsa a,, apalagi tambah ngedalemin agama,, (wah,, tobat2 do!! Jangan lama-lama!). Ohya,, buat bang arif yang minta TAnya ditulis di blog aja daripada ngga ada tulisan sama sekali,, wah, takutnya malah tambah kosong isi blognya ; p..

Lagi banyak yang seru padahal,, ekonomi dunia yang melambat,, 10 tahun reformasi,, BBM yang naik,, pengaruhnya ke bangsa,, pemerintah yang katanya udah ngga ada jalan lain,, kampus juga lagi dinamis,, forum massa, intrik2 mereka, tarik kanan-kiri, himpunan juga lagi kaderisasi,, panitia banyak ceritanya,, peserta juga banyak keluhannya,, tugas lagi banyak-banyaknya, TA belum jelas juga,, UAS udah deket,, finance juga ada beberapa things to do,, keluarga banyak yang lagi mau nikah,, ngurus kanan kiri,, belum lagi pengen banyak belajar hal baru,, belum lagi kondisi diri yang selalu naik turun,, hidup emang penuh dengan pilihan-pilihan dan prioritas.. (lumayan sembari curhat ; p huehue2..) siaplah,, bentar lagi sprint kita..!! ; )

Okeh2,, cukup sekian basa-basinya,, ; p Berhubung blog emang sarana cerita, ya sekalian cerita keseharian aja,, Kebetulan saya emang suka nulis tapi ngga suka publikasiin,, jadi tulisan saya di bawah ini udah lama sebenarnya ditulisnya,, cuma baru sempet saya masukin skrg,, ya udah di tunggu komentar dan bimbingan temen-temen..

Wassalam,,

Disaat tugas besar pemodelan masih jauh dari selesai

25 Mei 2008, 01.30 WIB



Selamat berbagi dan menikmati..!
April 9, 2008, 11:39 am
Filed under: Uncategorized | Tags:

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Selamat datang teman-teman semua,,

Akhirnya selesai juga pengerjaan blog saya ini, setelah memakan waktu dan bantuan dari banyak pihak yang tidak sedikit. Special thanks dialamatkan kepada Dian Novita yang berperan sangat besar sekali dalam pembuatan blog ini (dengan kata lain mengerjakan hampir semuanya ; p), semoga dapat saya pergunakan dengan sebaik-baiknya.

Saya cukup senang membaca, walaupun kurang begitu menikmati untuk membaca dalam waktu lama, kecuali untuk topik-topik yang sangat menarik. Blog adalah salah satu yang senang sekali saya baca, karena tidak membutuhkan waktu lama untuk menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Saya juga suka menulis, namun tulisan-tulisan saya biasanya pendek dan sangat personal sekali, walaupun tentang pemikiran saya memandang beberapa hal. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menulis blog, untuk mendapatkan feedback dari tulisan-tulisan saya yang terkadang sangat tidak terstruktur dan tidak jelas pesan yang ingin disampaikannya.

Menurut saya sebenarnya ada banyak sekali pembelajaran yang dapat kita ambil dalam keseharian peristiwa-peristiwa yang kita alami. Bahkan dari kejadian sesederhana apapun, ada maksud yang dapat kita pelajari. Nah, tinggal seberapa peka diri kita untuk menangkap maksud-maksud tadi, agar dapat memperkaya pemikiran dan nurani kita.

Dan menurut saya dunia ini seperti bola dunia yang dapat dilihat dari berbagai arah, dan tiap-tiap kita melihat dengan sudut pandang dan kedekatan yang berbeda-beda. Ada yang melihat dari jarak 10 cm dan yang terlihat olehnya adalah pulau jawa, ada yang melihat dari jarak 100 cm dan yang terlihat olehnya adalah benua asia. Jadi setiap orang pasti punya nilai-nilai yang baik untuk dibagi, perbedaannya hanya darimana masing-masing kita memandang serta spesifik atau global, serta hal-hal mana yang dianggap lebih penting.

Oleh karena itu blog menurut saya sarana yang baik sekali untuk berbagi dan saling belajar. Begitu banyak sekali nikmat dan keindahan dunia yang telah diberikanNya. Maka bukalah hati dan pikiran, nikmati setiap detik hidup untuk bersyukur dan berbagi atas segala keindahan yang telah diberikanNya.

Sesungguhnya yang benar datang hanya dariNya, dan yang salah ialah ketidakmampuan saya untuk selalu memberikan yang terbaik di setiap detik hidup saya, entah pikiran, iman, konsentrasi, atau hal-hal lainnya.

Harapannya dengan blog ini saya dapat mencoba untuk lebih merasa, belajar, berpikir, berkreasi, dan mengabdi. Mencoba menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Selamat berbagi dan menikmati. Semoga kehadiran kita dapat menjadi rahmat bagi alam ini, amin.

Waalaikum Salam Wr. Wb.