Leo’s Thoughts


Film Indonesia Terbaik pilihan saya
May 24, 2008, 6:32 pm
Filed under: Uncategorized | Tags: ,

Baru saja nonton film ayat-ayat cinta di ciwalk XXI,saya langsung kasih 4 jempol untuk film ini. Menurut saya sampai saat ini, film Indonesia terbaik ialah ayat-ayat cinta, dibawahnya baru mengejar matahari serta nagabonar jadi 2, dan tak lupa pula si pembuka gerbang ada apa dengan cinta serta jaelangkung. Saya tidak begitu tertarik dengan segala pemeringkatan yang saya buat tadi, saya lebih ingin membahas lebih dalam tentang film ayat-ayat cinta.

Di sini saya belajar tentang cinta, tentang keinginan memiliki yang ternyata berbeda, (walaupun saya tetap saja memilih keinginan memiliki dibanding cinta, hehe2..). Saya belajar tentang Islam sebagai way of life, bagaimana adab menangani orang asing, bagaimana adab memperlakukan istri, bagaimana adab berlaku dengan lawan jenis, bagaimana konsep islam tentang tatacara mengenal calon istri yaitu taaruf yang berbeda dengan konsep dunia barat yaitu pacaran.

Saya belajar untuk tahu bahwa Tuhan ada bukan hanya untuk orang-orang saleh yang selalu berada di mesjid, tetapi juga umatNya yang mungkin telah salah dalam memilih jalan. Saya belajar untuk sadar bahwa semua yang saya miliki adalah titipan, bahwa setiap saat bisa saja Allah mengambilnya kembali, entah itu harta, milik, ketenaran, prestasi, teman, kepandaian, kemampuan, dan banyak lagi. Dan lebih sadar untuk lebih peka dengan keadaan sekitar untuk segala sesuatu yang telah kita lakukan, karena sekecil apapun itu pasti ada pengaruhnya terhadap orang lain entah baik maupun buruk.

Tetapi yang paling penting saya belajar untuk lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapi segala cobaan hidup. Itu saja kuncinya, karena segala sesuatu apapun yang Allah mau kita jalani, pasti ada hikmah di balik semua itu. Saya jadi berpikir lagi tentang konsep takdir, mungkin benar segala sesuatunya memang sudah digariskan, yang bisa kita lakukan hanyalah menentukan dimana kita berpijak dan apa yang kita yakini saat sang takdir datang menghampiri.

Menurut saya hal ini harusnya membuka mata para pendakwah kita, walaupun sebenarnya keberadaan film ini adalah buah dari MD Entertainment yang jeli melihat peluang bisnis ini. Tetapi paradigma dakwah di Indonesia harus dilengkapi. Karna sebenarnya yang butuh didakwahi bukan hanya orang-orang “suci” yang gemar beribadah serta memiliki inisiatif tinggi untuk menggerakkan badannya untuk selalu ke mesjid atau mengikuti segala kegiatan keislaman. Target pasar utama dakwah seharusnya ialah seluruh kalangan muda di Indonesia, yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa, akan menjadi orang-orang yang menentukan arah gerak bangsa ini.

Karena itu dakwah haruslah dapat menyentuh kebiasaan anak muda zaman sekarang, yang katanya digolongkan sebagai budaya pop. Dan menonton film sudahlah menjadi budaya dan kebiasaan pada diri tiap anak muda sekarang. Sudah saatnya hegemoni eksploitasi seks dan horror dihentikan dengan film-film yang memberikan nilai tambah bagi penontonnya, tata nilai yang ditawarkan. Sudah saatnya para pendakwah memberikan budgetnya untuk masuk berdakwah melalui kebiasaan yang populer di kalangan orang banyak. Bukankah itu yang dilakukan para pendahulu kita, para wali songo yang melakukan berbagai cara untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran pada masyarakat di zamannya masing-masing. Subhanallah.

Sebuah pandangan dari orang yang tahu begitu banyak ketidak sempurnaan dalam diri,tapi tetap yakin itu bukanlah suatu halangan untuk menyampaikan yang dianggapnya benar.

Maha Besar Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tuhan segala makhluk.

11 Maret 2008, 01.13 WIB