Baru saja nonton film ayat-ayat cinta di ciwalk XXI,saya langsung kasih 4 jempol untuk film ini. Menurut saya sampai saat ini, film Indonesia terbaik ialah ayat-ayat cinta, dibawahnya baru mengejar matahari serta nagabonar jadi 2, dan tak lupa pula si pembuka gerbang ada apa dengan cinta serta jaelangkung. Saya tidak begitu tertarik dengan segala pemeringkatan yang saya buat tadi, saya lebih ingin membahas lebih dalam tentang film ayat-ayat cinta.
Di sini saya belajar tentang cinta, tentang keinginan memiliki yang ternyata berbeda, (walaupun saya tetap saja memilih keinginan memiliki dibanding cinta, hehe2..). Saya belajar tentang Islam sebagai way of life, bagaimana adab menangani orang asing, bagaimana adab memperlakukan istri, bagaimana adab berlaku dengan lawan jenis, bagaimana konsep islam tentang tatacara mengenal calon istri yaitu taaruf yang berbeda dengan konsep dunia barat yaitu pacaran.
Saya belajar untuk tahu bahwa Tuhan ada bukan hanya untuk orang-orang saleh yang selalu berada di mesjid, tetapi juga umatNya yang mungkin telah salah dalam memilih jalan. Saya belajar untuk sadar bahwa semua yang saya miliki adalah titipan, bahwa setiap saat bisa saja Allah mengambilnya kembali, entah itu harta, milik, ketenaran, prestasi, teman, kepandaian, kemampuan, dan banyak lagi. Dan lebih sadar untuk lebih peka dengan keadaan sekitar untuk segala sesuatu yang telah kita lakukan, karena sekecil apapun itu pasti ada pengaruhnya terhadap orang lain entah baik maupun buruk.
Tetapi yang paling penting saya belajar untuk lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapi segala cobaan hidup. Itu saja kuncinya, karena segala sesuatu apapun yang Allah mau kita jalani, pasti ada hikmah di balik semua itu. Saya jadi berpikir lagi tentang konsep takdir, mungkin benar segala sesuatunya memang sudah digariskan, yang bisa kita lakukan hanyalah menentukan dimana kita berpijak dan apa yang kita yakini saat sang takdir datang menghampiri.
Menurut saya hal ini harusnya membuka mata para pendakwah kita, walaupun sebenarnya keberadaan film ini adalah buah dari MD Entertainment yang jeli melihat peluang bisnis ini. Tetapi paradigma dakwah di Indonesia harus dilengkapi. Karna sebenarnya yang butuh didakwahi bukan hanya orang-orang “suci” yang gemar beribadah serta memiliki inisiatif tinggi untuk menggerakkan badannya untuk selalu ke mesjid atau mengikuti segala kegiatan keislaman. Target pasar utama dakwah seharusnya ialah seluruh kalangan muda di Indonesia, yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa, akan menjadi orang-orang yang menentukan arah gerak bangsa ini.
Karena itu dakwah haruslah dapat menyentuh kebiasaan anak muda zaman sekarang, yang katanya digolongkan sebagai budaya pop. Dan menonton film sudahlah menjadi budaya dan kebiasaan pada diri tiap anak muda sekarang. Sudah saatnya hegemoni eksploitasi seks dan horror dihentikan dengan film-film yang memberikan nilai tambah bagi penontonnya, tata nilai yang ditawarkan. Sudah saatnya para pendakwah memberikan budgetnya untuk masuk berdakwah melalui kebiasaan yang populer di kalangan orang banyak. Bukankah itu yang dilakukan para pendahulu kita, para wali songo yang melakukan berbagai cara untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran pada masyarakat di zamannya masing-masing. Subhanallah.
Sebuah pandangan dari orang yang tahu begitu banyak ketidak sempurnaan dalam diri,tapi tetap yakin itu bukanlah suatu halangan untuk menyampaikan yang dianggapnya benar.
Maha Besar Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Tuhan segala makhluk.
11 Maret 2008, 01.13 WIB
8 Comments so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



Nicely reviewed Do…
Iya ya, jarang bgt liat tayangan yang menanamkan nilai2 kebenaran.
Tapi emang harus dari 2 pihak si, selain yang dakwah mau “memperluas pangsa pasarnya”, “pasar” yang dituju pun juga harus mau membuka diri terhadap apa yang bener… Gak ikut2an men-stereotip kan dakwah itu sendiri…
*Komen di kala pemodelan masih jauh dari selesai*
Comment by Arfi Jayanti May 24, 2008 @ 10:37 pmayat ayat cinta ya..
gw gak komen lah soal konten dakwahnya, tapi sbg penonton yg suka nyari pelajaran2 yg bisa gw dapet dari film yg gw tonton, gw mau komen ni.
gw gak kesentuh, mgkn krn si ile komen mulu ya sepanjang film, hehe..
dan makin kesini, entah knapa buat gw tuh film makin luntur maknanya.
mgkn karena tetep dibalut komersialitas (kata byk org critanya byk menyimpang dr bukunya, terimakasih buat si komersialitas).
mgkn krn pemainnya. (yg menurut gw byk yg gak cocok dan gak bisa tampil bner2 menjiwai tokohnya, kesan fake nya masi gw dapet)
mgkn krn gw menyayangkan semua ttg AAC ini jd dikomersilin, dari dbkin sinetron yg mirip2 (u know, sinetron is always be sinetron, minim bgt maknanya), mbak rianti kejebak peran2 stereotip (pdhl dia yg menurut gw, selain matanya, gak cocok bgt meranin tokoh seputih aisyah), dan skrg lgs kebut bkin film dari novel om habiburahman el shirazy (bner gak sih gw nulisnya).
gw kagum ama tujuan dbkinnya ni film buat sarana dakwah ke orang2 yang gak biasa mendengar dakwah (as you said lah).
tapi dgn bersuamikan komersialitas jor2an kek gini?
gw malah takut inti dan makna dari film2 ini jadi bias dan malah ikut2an jadi bagian dari produk komersil yg cuma bertahan kalo lagi trend aja.
smoga yg gw takutin gak kejadian.
Comment by dian novita May 26, 2008 @ 1:22 pmsmoga org2 bisa belajar way of life dari film ini bner2 buat way of life for their lifetime, not only for a month, a year, or as long the trend goes exist.
waw, komen dinop supeer panjang (malah ngomentarin komentar orang..). hehe.
gue juga suka film itu. sampe nonton 2x. haha.
emang agak menyimpang dari bukunya sih, tapi menurut gue ada sisi bagusnya juga.
soalnya di film itu si tokoh2nya ditampilkan seperti manusia biasa yang juga punya salah.
gue paling suka adegan di penjara waktu temen sel nya fahri itu bilang: “sabar, ikslas, itu islam”.
Comment by yasmin June 4, 2008 @ 3:45 ambikin gue ternganga sesaat. haha.
ralat, itu bukan ‘ikslas’ tapi ‘ikhlas’.
Comment by yasmin June 4, 2008 @ 3:47 amTo Arfi:
Sepakat sih,, harus dari dua2nya,, tapi emang tanggung jawab terbesarnya di orang yang paling tahu dan paling kuasa,, lagi-lagi itu menurut gw,, hehe2.. ; )
To Dian:
Iya,, film ini dibuat emang bukan untuk syi’ar sebenarnya,, tapi emang MD Entertainment yang jeli ngelihat peluang bisnis karna novelnya laku keras dan pasar muslim yang besar (80% dari penduduk)..
Cuma menurut gw cara ini seharusnya bisa dipakai buat dakwah,,
film ini masih jauh dari sempurna,, tapi cukup menggugah untuk sebuah awalan,,
Emang ngga bisa berharap dari satu film bisa mengubah dan menjaga way of life seseorang,, harus di stimulus terus menerus menurut gw dengan berbagai cara dan keadaan..
To Yasmin:
Comment by leonardo June 4, 2008 @ 6:04 amIya,, makanya gw komentarin juga dengan panjang,, hehe2..
gw juga suka bgt,, selain karna yg gw jelasin di atas,, yang jadi marianya oke bgt,, ; )
emang quote film itu bgt yah,,
“sabar, ikhlas, itu islam”
over all, film ini bagus,
banyak hal yang bisa diambil.
*imho..;)
Comment by Nadya Fadila June 4, 2008 @ 9:10 amyup, filmnya bagus, tapi klo mau lebih terinspirasi novelnya perlu juga u/ dibaca ^^
Comment by aulia ali June 5, 2008 @ 5:50 ammengaku bersalah karena ntn soft copy *gak sabar euy..lama banget keluarnya** hihiih
wajar sih kalo dian komentarnya gitu, karena kalo di novelnya, teman yg masuk penjara itu bukan orang setangah gila itu, tapi ulama/akademisi yg dipenjara karena politik, makanya bisa ngeluarin statement “sabar, ikhlas, itu islam” dan kalo itu gak diubah, pelajarannya banyak bgt dari dia….. *geram geram**
tapi niat baik harus didukung..hohoho
Comment by atiek June 5, 2008 @ 4:35 pmsabar dengan puasa, ikhlas dan ketenangan dari shalat… lengkap!!