“It doesn’t matter who my father was,,
It matters who I remembered he was…”
-Anne Sexton-
…
…
…
Tiba-tiba teringat suatu cerita dari salah seorang ustad pada saat saya masih kecil,,
Kepada siapa aku harus berbakti ya rasul..?
Ibumu…
Kepada siapa aku harus berbakti ya rasul..?
Ibumu…
Kepada siapa aku harus berbakti ya rasul..?
Ibumu…
Kepada siapa aku harus berbakti ya rasul..?
Ayahmu…
(ditulis kembali berdasar ingatan seadanya tentang salah satu hadits)
Dari kecil kita pasti seringkali diceritakan percakapan diatas, saya sepakat dengan seberapa besar penghargaan yang kita berikan kepada ibu kita. Saya hanya ingin menceritakan seberapa besar saya ingin menghargai peran seorang ayah, bukan hanya karena saya nantinya akan menjadi seorang ayah, tetapi menurut saya, ayah adalah sosok yang butuh penghargaan juga dari anak2nya.
Saya ingin menceritakan pengalaman saya malam minggu lalu, saat ulang tahun ayah saya. Seperti kebiasaan di keluarga kami, jika salah satu dari kami berulang tahun biasanya anggota keluarga yang lain berkewajiban untuk menyiapkan acara surprise untuknya.
Namun kali ini saya lupa, saya baru ingat saat ditelpon oleh kakak saya, menanyakan sampai di jakarta jam berapa. Sayapun baru dapat travel jam 11.45 dan baru sampai di jakarta sekitar pukul 02.00 dini hari. Jadi akhirnya kami putuskan untuk memberi surprise sekitar pukul 05.00 pagi, saat beliau sedang salat subuh.
Kebetulan saya memang agak jarang pulang ke jakarta, karena satu dan lain alasan, (atau memang hanya alasan yang dibuat2,, hehe2..). Jadi sedikit rindu juga saat bertemu orang-orang rumah. Saya tidak tidur dari datang sampai menjelang surprise, kebetulan kami, saya, kakak dan adik saya menghabiskan waktu untuk mengobrol dan menonton DVD, sunguh menyenangkan buat saya.
Surprise pun akhirnya kami lakukan, dan beliau cukup terkejut melihat kehadiran saya, cukup senang juga nampaknya, hehe2.. Beliau dengan riangnya menyambut kami, memotong kue, kemudian memberikan kami sedikit kuliah subuh (kebetulan beliau memang gemar memberikan kuliah singkat kepada siapa saja kapan saja,, hehe2..).
Satu hal yang saya sadari ternyata dalam surprise ini, ternyata bukan kami yang memberi surprise yang sebenarnya lebih dinanti untuk memberikan kesenangan. Tetapi wajah riang ayah, kehangatannya, kesediaannya memberikan kuliah subuh kepada kami, kesediaannya memotong kue dan bercengkrama kepada kami yang memberikan surprise yang sebenarnya lebih dinanti. Karna kami sadar, mungkin untuk saat ini hanya ini salah satu usaha yang dapat kami berikan untuk membalas kebaikan beliau yang kami terima selama ini.
Di negara kita, dikenal tanggal 21 April sebagai hari kartini dan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Untuk kami, untuk saya khususnya, tanggal 20 April adalah hari ayah.
Rangkuman kata-kata beliau yang paling saya ingat malam itu,,
“Mungkin kita ini terlalu banyak memberikan penghormatan, penghargaan dan pujian kepada orang-orang yang jauh dari kita. Yang mungkin tidak membutuhkan itu untuk membuat mereka lebih baik menjalani hari mereka. Kita terkadang lupa untuk memberikan penghormatan, penghargaan dan pujian kepada orang-orang yang dekat dari kita. Yang mungkin lebih berpengaruh dalam hidup kita, yang mungkin lebih berjasa dalam hidup kita, yang mungkin lebih membutuhkannya untuk membuat mereka lebih bersemangat menjalani hari mereka..”
Hari ini saya ingin sekali berkata kepada ayah saya bahwa,,
It’s an honour for me to be taught by you,,
To see what you see,,
To think how you think,,
To feel what you feel,,
To live how you live,,
To be as wise, as harm, as great as you are,,
And I thank God for sending me the right man to teach…
…
…
Semoga membuat saya selalu teringat untuk berdoa dan berbakti
23 April 2008
Baru saja nonton film ayat-ayat cinta di ciwalk XXI,saya langsung kasih 4 jempol untuk film ini. Menurut saya sampai saat ini, film Indonesia terbaik ialah ayat-ayat cinta, dibawahnya baru mengejar matahari serta nagabonar jadi 2, dan tak lupa pula si pembuka gerbang ada apa dengan cinta serta jaelangkung. Saya tidak begitu tertarik dengan segala pemeringkatan yang saya buat tadi, saya lebih ingin membahas lebih dalam tentang film ayat-ayat cinta.
Di sini saya belajar tentang cinta, tentang keinginan memiliki yang ternyata berbeda, (walaupun saya tetap saja memilih keinginan memiliki dibanding cinta, hehe2..). Saya belajar tentang Islam sebagai way of life, bagaimana adab menangani orang asing, bagaimana adab memperlakukan istri, bagaimana adab berlaku dengan lawan jenis, bagaimana konsep islam tentang tatacara mengenal calon istri yaitu taaruf yang berbeda dengan konsep dunia barat yaitu pacaran.
Saya belajar untuk tahu bahwa Tuhan ada bukan hanya untuk orang-orang saleh yang selalu berada di mesjid, tetapi juga umatNya yang mungkin telah salah dalam memilih jalan. Saya belajar untuk sadar bahwa semua yang saya miliki adalah titipan, bahwa setiap saat bisa saja Allah mengambilnya kembali, entah itu harta, milik, ketenaran, prestasi, teman, kepandaian, kemampuan, dan banyak lagi. Dan lebih sadar untuk lebih peka dengan keadaan sekitar untuk segala sesuatu yang telah kita lakukan, karena sekecil apapun itu pasti ada pengaruhnya terhadap orang lain entah baik maupun buruk.
Tetapi yang paling penting saya belajar untuk lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapi segala cobaan hidup. Itu saja kuncinya, karena segala sesuatu apapun yang Allah mau kita jalani, pasti ada hikmah di balik semua itu. Saya jadi berpikir lagi tentang konsep takdir, mungkin benar segala sesuatunya memang sudah digariskan, yang bisa kita lakukan hanyalah menentukan dimana kita berpijak dan apa yang kita yakini saat sang takdir datang menghampiri.
Menurut saya hal ini harusnya membuka mata para pendakwah kita, walaupun sebenarnya keberadaan film ini adalah buah dari MD Entertainment yang jeli melihat peluang bisnis ini. Tetapi paradigma dakwah di Indonesia harus dilengkapi. Karna sebenarnya yang butuh didakwahi bukan hanya orang-orang “suci” yang gemar beribadah serta memiliki inisiatif tinggi untuk menggerakkan badannya untuk selalu ke mesjid atau mengikuti segala kegiatan keislaman. Target pasar utama dakwah seharusnya ialah seluruh kalangan muda di Indonesia, yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa, akan menjadi orang-orang yang menentukan arah gerak bangsa ini.
Karena itu dakwah haruslah dapat menyentuh kebiasaan anak muda zaman sekarang, yang katanya digolongkan sebagai budaya pop. Dan menonton film sudahlah menjadi budaya dan kebiasaan pada diri tiap anak muda sekarang. Sudah saatnya hegemoni eksploitasi seks dan horror dihentikan dengan film-film yang memberikan nilai tambah bagi penontonnya, tata nilai yang ditawarkan. Sudah saatnya para pendakwah memberikan budgetnya untuk masuk berdakwah melalui kebiasaan yang populer di kalangan orang banyak. Bukankah itu yang dilakukan para pendahulu kita, para wali songo yang melakukan berbagai cara untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran pada masyarakat di zamannya masing-masing. Subhanallah.
Sebuah pandangan dari orang yang tahu begitu banyak ketidak sempurnaan dalam diri,tapi tetap yakin itu bukanlah suatu halangan untuk menyampaikan yang dianggapnya benar.
Maha Besar Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Tuhan segala makhluk.
11 Maret 2008, 01.13 WIB
Terimakasih buat Arfi Jayanti yang udah membantu (sangat membantu tepatnya,, hehe2..) dalam menyempurnakan blog ini. Agak terlalu sibuk akhir-akhir ini, jadi ngga sempet nge-post di blog lagi. (padahal sibuk sendiri aja ; p) Banyak mikirin diri sendiri sih, banyak yg harus diputusin,, maklum mahasiswa di persimpangan lulus,, banyak maunya,, hehe2.. Jadi ngga sempet mikirin orang lain d,, apalagi bangsa a,, apalagi tambah ngedalemin agama,, (wah,, tobat2 do!! Jangan lama-lama!). Ohya,, buat bang arif yang minta TAnya ditulis di blog aja daripada ngga ada tulisan sama sekali,, wah, takutnya malah tambah kosong isi blognya ; p..
Lagi banyak yang seru padahal,, ekonomi dunia yang melambat,, 10 tahun reformasi,, BBM yang naik,, pengaruhnya ke bangsa,, pemerintah yang katanya udah ngga ada jalan lain,, kampus juga lagi dinamis,, forum massa, intrik2 mereka, tarik kanan-kiri, himpunan juga lagi kaderisasi,, panitia banyak ceritanya,, peserta juga banyak keluhannya,, tugas lagi banyak-banyaknya, TA belum jelas juga,, UAS udah deket,, finance juga ada beberapa things to do,, keluarga banyak yang lagi mau nikah,, ngurus kanan kiri,, belum lagi pengen banyak belajar hal baru,, belum lagi kondisi diri yang selalu naik turun,, hidup emang penuh dengan pilihan-pilihan dan prioritas.. (lumayan sembari curhat ; p huehue2..) siaplah,, bentar lagi sprint kita..!! ; )
Okeh2,, cukup sekian basa-basinya,, ; p Berhubung blog emang sarana cerita, ya sekalian cerita keseharian aja,, Kebetulan saya emang suka nulis tapi ngga suka publikasiin,, jadi tulisan saya di bawah ini udah lama sebenarnya ditulisnya,, cuma baru sempet saya masukin skrg,, ya udah di tunggu komentar dan bimbingan temen-temen..
Wassalam,,
Disaat tugas besar pemodelan masih jauh dari selesai
25 Mei 2008, 01.30 WIB


